Jum’at, aku menjalani kehidupan
seperti biasa, pergi kuliah kumpul organisasi dan yang lainnya. Kala itu, aku
masih menggunakan celana. Oh iya, suatu hari aku mendapatkan tugas dari
organisasi bidang pers mahasiswa, aku harus memenuhi tugasku sebagai reporter,
aku harus menulis berita online, sungguh hari itu aku masih bingung dengan isu
apa yang harus aku liput.
Menjelang
siang hari, aku mulai berfikir dan mencari kesana kesini perihal isu apa yang
harus aku liput, jujur saja waktu itu aku masih magang, jadi aku masih
kebingungan untuk mencari isu. Aku mulai bertanya kepada teman2 perihal isu,
dan salah satu teman kosan ku memberitahuku bahwa di Mesjid Iqomah UIN, Lembaga
Dakwah Mahasiswa selalu mengadakan acara ‘Bincang Muslimah’, dikarenakan tugas
deadline akhirnya aku pergi dan meliput acara itu lalu menjadikannya berita.
Hari itu tepat pukul 13.00 acara dimulai, aku meminta teman
sekelasku untuk menemaniku keacara tersebut dan akhirnya kita berdua pergi
kesana, tetapi betapa bodohnya aku, aku pergi kesana dengan menggunakan celana ‘jeans’
ketat pula, sangat memalukan. Awalnya aku tak ingin masuk kesana, tetapi
daripada aku dimarahi oleh redaktur ku karena tidak menjalankan tugas,
yasudahlah aku pasrah dan akhirnya kita berdua masuk lalu mengikuti pengajian
tersebut. Mereka melempsrkan senyuman, mereka mempersilahkan kita untuk masuk
dan mereka sangat ramah sekali.
Aku mulai duduk dibarisan paling belakang, ku keluarkan
notebook dan handphone untuk merekam,
aku mulai mendengarkan kalimat demi kalimat yang disampaikan oleh
pemateri, kala itu tema yang dibawakan kalo tidak salah tentang cara berpakaian
muslimah yang baik, astagfirulloh setiap kalimat yang ia sampaikan membuatku
tersadar bahwa penampilanku sama sekali tidak mencerminkan ‘wanita muslimah’.
Usai kajian, aku mengajak pemateri tersebut untuk
berbincang2 sedikit mengenai materi yang ia sampaikan, saat itu aku merasa malu
dengan pakaianku yang seperti ini, aku melihat mereka semua menggunakan ‘baju
syar’i’. Lalu ia menjelaskan kembali, sekitar 15menit kita berbicara, dan
setiap kalimat yang ia sampaikan membuat aku semakin tersadar, dan aku mulai
berfikir untuk hijrah. Kala itu aku merasakan aku mendapatkan sebuah ‘hidayah’
yang diberikan oleh Allah SWT kepadaku melalui acara tersebut.
Setiba dikosan, aku mulai mengetik hasil liputan ku dan aku
mulai merenung dan memikirkan semua yang ia katakan. Aku merasa aku mendapatkan
pencerahan, mendapatkan ketenangan hati dan fikiran. Setelah sekian hari aku
merenung dan meminta petunjuk dariNya akhirnya aku mulai mencoba memberanikan
diri untuk merubah penampilanku, dari ‘jeans’ menjadi ‘syar’i’ dengan tekad
Bismillah aku akhirnya merubah penampilanku.
Setelah sekian hari aku menggunakan pakaian seperti itu, aku
merasa hidupku ada perubahan, yah tentunya aku merasa hidupku menjadi lebih
baik, Allah selalu memberikanku dan menempatkanku dilingkungan yang baik, Allah
mendatangkanku teman-teman yang baik, dan aku merasa kehidupanku jauh lebih
bahagia dari sebelumnya.
Ternyata aku mulai tersadar, bahwa bahagia itu kita yang
menentukan, jika kita ingin bahagia maka kita harus mengikuti apa yang Dia
perintahkan. Dan inilah hidupku, aku bahagia dengan hidupku yang sekarang, aku
sangat bersyukur dengan kehidupanku yang sekarang, walaupun dalam proses
hijrahku aku harus melalui berbagai godaan dan juga rintangan. yah hijrah itu mudah, tetapi Istiqomahnya yang sulit, tapi inilah proses, nikmati setiap prosesnya karena Allah mencintai proses. Terimakasih
Tuhan...
*Bukan maksud Riya atau apa, tetapi aku hanya ingin sekedar berbagi, bahwa hidayah itu harus kita yang menjemput. Semoga kita semua selalu diberikan hidayah oleh-Nya. semoga cerita ini bisa bermanfaat untuk diriku dan untuk kita semua, terimakasih sudah menyempatkan diri untuk membaca tulisanku yang masih acak-acakan.