Senin, 03 September 2018

Tanpa Air, Apa jadinya?


Hasil gambar untuk kekeringan air
"Assalatu khairumminannaum 2x..." Lantunan suara adzan membangunkan sang gadis yang tengah tertidur pulas. Ia tak marah, justru ia sangat bersyukur sebab dirinya masih diberikan kesempatan untuk merasakan nikmatnya udara pagi. Segera ia pergi ke kamar mandi, sayangnya ia tak setetes airpun ia temukan. Langkahnya kemudian membawanya kembali ke kamar tidur, ada rasa kantuk yang begitu berat, namun ia berusaha untuk melawannya. Diambillah seperangkat alat shalat, kemudian ia melangkahkan kaki dan membuka pintu rumah, ia bergegas pergi ke Masjid. Waktu sudah menunjukan pukul 05, keadaan masjid sudah begitu gelap. Aneh, tak seperti biasanya. Ia mencoba melawan rasa takut sebab sekeliling masjid begitu sepi, maklum, sebab dibelakang masjid bukanlah rumah tetapi kebun yang ditumbuhi oleh pohon-pohon yang cukup rindang.

Ada rasa takut dan kantuk ketika ia melangkah membuka pintu masjid, namun hembusan angin pagi cukup menghilangkan sedikit rasa kantuk. Kemudian ia menaroh kain shalat dan bergegas ke tempat wudhu. Namun sayang seribu sayang, lagi lagi ia tak menemukan setetes air. Ada rasa kecewa, marah dan lelah dalam hatinya.
Dengan segera ia mengambil kain alat shalat berwarna biru corak bunga-bunga, ia berjalan sendiri dengan perasaan bingung. Sesekali hatinya terus menggerutu, mengeluh dan ingin menangis. Ia bingung harus bagaimana, dan waktu semakin berjalan. Ia masih belum menemukan air, "ahk Tuhan, dimana air?"

"Dibelakang rumah ada air hujan, tapi ya kurang bersih." ujar salah seorang teman KKN-nya. Tak berfikir dua kali, dalam hatinya berkata "daripada tidak shalat, yasudah mau gak mau ya harus pakai air itu." Tak ada pilihan lain, kecuali menggunakan Air Minum yang ada di Galon. Sempat terfikirkan untuk memakai air minum, hanya saja air di Galon tinggal setengah.

Dengan segera ia mengambil sebuah Ember dan membuka pintu. Diambillah air hujan tersebut untuk wudhu. Ucapan Bismillah terdengar dari dalam hatinya, ada rasa khawatir dan takut. Sebab, Air Hujan tersebut tidak layak dan tidak seperti air hujan pada umumnya. Keruh, ya. Tapi mau bagaimana lagi, dengan perasaan was-was ia segera mengambil wudhu dengan menggunakan air tersebut.

Sudah dua minggu Desa ini kekurangan Air bersih, bukan hanya manusia yang terkena dampaknya, namun hewan dan tumbuhanpun ikut merasakan akibatnya. Aneh memang, padahal RW 09 Desa Bandasari Air Bersih masih begitu melimpah, namun RW 08 Bandaasri Desa Bandasari kekurangan Air. Apa mungkin Tuhan sedang menguji kami? Apa mungkin ini balasan dari dosa-dosa yang tlah kami perbuat? Ah entahlah, itu rahasia-Nya. Hanya saja, aku selalu berdoa semoga Tuhan memberikan kami semua kekuatan untuk melewati cobaan ini.

Hari ini, merupakan hari ke-29 ia tinggal di Desa Bandasari, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung. Artinya, tinggal 4hari lagi ia selesai menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN).