Sabtu, 12 Oktober 2019
Tepat Sewindu, Tulus Ramaikan Hari Kedua The Papandayan Jazz Festival
Pergelaran hari kedua The Papandayan Jazz Fest (TPJF) 2019 telah dimulai, ratusan penonton terlihat memadati lokasi acara yang digelar di hotel The Papandayan, Jalan Gatot Subroto, Bandung, Jumat (4/10).
Setelah kemarin terhipnotis dengan lagu-lagu yang dibawakan Glenn Fredly, di hari kedua ini tentunya The Papandayan Jazz Fest 2019 semakin seru dan meriah.
Hari kedua TPJF 2019 ditutup dengan tepukan riuh para penonton menyambut penampilan dari Tulus yang naik ke panggung di iringi dengan intro lagu Gajah.
"Perkenalkan nama saya Tulus. Saya harap temen-temen tau kalo saya menulis semua lagu-lagu di Bandung. Saya terharu sekali, karena saya belum pernah menemukan suasana seperti ini di kota-kota lainnya," Kata Tulus sebelum menyanyikan lagu berikutnya di atas Panggung.
"Saya sudah delapan tahun bermusik. Lagu ini adalah lagu yang saya tulis ketika banyak sekali yang datang dalam hidup saya tidak sesuai dengan ekspetasi. Lagu berikutnya yaitu Monokrom,"lanjutnya.
Selanjutnya Tulus menyanyikan beberapa lagu populer miliknya. Seperti Cintai aku apa adanya, Matahari, Ruang sendiri, Labirinmu, Coba sehari saja, Teman Hidup, dan Adu Rayu. Ratusan penonton ikut bernyanyi sambil mengabadikan momen menggunakan ponsel mereka.
Di sela-sela penampilannya, Tulus mengajak dua orang penonton naik ke panggung untuk menyanyikan sedikit lagu miliknya. Tidak disangka, kedua penonton tersebut memiliki suara yang sangat merdu.
Lagu berjudul Sewindu menjadi penutup penampilan Tulus di The Papandayan Jazz Fest 2019 semakin sempurna, karena di tahun ini tepat sewindu pula Tulus meramaikan belantika musik tanah air.
Cerita Santana, Warga Kota Bandung Korban Kerusuhan Wamena
Santana (43), seorang pria
Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung merupakan salah satu pengungsi korban kerusuhan di Wamena yang terjadi pada Senin (23/9/29) lalu. Saat ini ia dan putranya telah berhasil di evakuasi kembali ke daerahnya.
Masih terukir jelas di benak Santana, saat itu Ia dan anaknya tengah mempersiapkan diri untuk bekerja di salah satu restoran di Wamena. Sudah tiga tahun ia menjadi juru masak, Kota Wamena yang ia kenal begitu hangat dan akrab kini tiba-tiba suasana berubah menjadi mencekam.
Pagi itu, tiba-tiba ia mendengar suara tembakan dari balik dapur tempat ia bekerja. Pikirnya, itu adalah tembakan polisi untuk membubarkan dua kelompok pelajar yang terlihat sedang tauran.
"Karena memang di jalan utama ada dua kelompok pelajar yang seakan tengah tawuran, tapi sebenarnya tauran itu tidak ada. Karna mereka bersatu dan akhirnya membuat kerusuhan dengan membakar dan membantai semua pendatang,"kata Santana saat ditemui di kediamannya, Jumat (11/10).
Saat itu, ia melihat bangunan sudah ludes terbakar. Tak pikir panjang, Santana dan putranya Yuda (22), beserta pegawai restoran lain bergegas untuk melarikan diri ke tempat yang aman. Mereka langsung melompat melewati benteng bangunan untuk menghindari kerusuhan.
"Saya sembunyi di rumah warga penduduk asli Wamena. Namun tak lama, karena teriakan masa yang begitu jelas, kita melihat api membumbung tinggi, akhirnya saya dan penduduk asli lari lagi untuk mencari tempat yang lebih aman," ungkapnya.
Santana bersama warga lainnya lari berhamburan menuju ke arah hutan untuk menghindari kerusuhan. "Lalu saya menemukan satu rumah warga pendatang, di sana ada sekitar 15 orang berkumpul di halaman rumah,” kata dia.
Pada saat itu, Santana dan kawan-kawan yang sudah berusaha lari akhirnya hanya bisa pasrah. "Jalan satu-satunya hanya berdoa dan terus berdzikir,"katanya.
Selam lima jam kemudian, akhirnya ia dan kawan-kawan lainnya berhasil di evakuasi ke kantor Polisi. Namun suasana kembali mencekam, tiba-tiba terjadi penyerangan oleh sekumpulan orang bersenjata, mereka menyerang kantor Polisi.
Akhirnya ia kembali dievakuasi ke rumah bosnya, pemilik restoran. Di sana Santana merasa sedikit aman lantaran ada Kopasus yang ikut berjaga. “Di sana bos saya orang Medan, hanya kebetulan di rumahnya ada Kopasus yang berjaga,” kata dia.
Selang beberapa hari kemudian, akhirnya Santana beserta warga pendatang lainnya berhasil di evakuasi ke Bandara untuk di pulangkan ke daerahnya masing-masing. Kini Santana dan putranya Yuda sudah berhasil kumpul bersama keluarga di kediamannya.
Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung merupakan salah satu pengungsi korban kerusuhan di Wamena yang terjadi pada Senin (23/9/29) lalu. Saat ini ia dan putranya telah berhasil di evakuasi kembali ke daerahnya.
Masih terukir jelas di benak Santana, saat itu Ia dan anaknya tengah mempersiapkan diri untuk bekerja di salah satu restoran di Wamena. Sudah tiga tahun ia menjadi juru masak, Kota Wamena yang ia kenal begitu hangat dan akrab kini tiba-tiba suasana berubah menjadi mencekam.
Pagi itu, tiba-tiba ia mendengar suara tembakan dari balik dapur tempat ia bekerja. Pikirnya, itu adalah tembakan polisi untuk membubarkan dua kelompok pelajar yang terlihat sedang tauran.
"Karena memang di jalan utama ada dua kelompok pelajar yang seakan tengah tawuran, tapi sebenarnya tauran itu tidak ada. Karna mereka bersatu dan akhirnya membuat kerusuhan dengan membakar dan membantai semua pendatang,"kata Santana saat ditemui di kediamannya, Jumat (11/10).
Saat itu, ia melihat bangunan sudah ludes terbakar. Tak pikir panjang, Santana dan putranya Yuda (22), beserta pegawai restoran lain bergegas untuk melarikan diri ke tempat yang aman. Mereka langsung melompat melewati benteng bangunan untuk menghindari kerusuhan.
"Saya sembunyi di rumah warga penduduk asli Wamena. Namun tak lama, karena teriakan masa yang begitu jelas, kita melihat api membumbung tinggi, akhirnya saya dan penduduk asli lari lagi untuk mencari tempat yang lebih aman," ungkapnya.
Santana bersama warga lainnya lari berhamburan menuju ke arah hutan untuk menghindari kerusuhan. "Lalu saya menemukan satu rumah warga pendatang, di sana ada sekitar 15 orang berkumpul di halaman rumah,” kata dia.
Pada saat itu, Santana dan kawan-kawan yang sudah berusaha lari akhirnya hanya bisa pasrah. "Jalan satu-satunya hanya berdoa dan terus berdzikir,"katanya.
Selam lima jam kemudian, akhirnya ia dan kawan-kawan lainnya berhasil di evakuasi ke kantor Polisi. Namun suasana kembali mencekam, tiba-tiba terjadi penyerangan oleh sekumpulan orang bersenjata, mereka menyerang kantor Polisi.
Akhirnya ia kembali dievakuasi ke rumah bosnya, pemilik restoran. Di sana Santana merasa sedikit aman lantaran ada Kopasus yang ikut berjaga. “Di sana bos saya orang Medan, hanya kebetulan di rumahnya ada Kopasus yang berjaga,” kata dia.
Selang beberapa hari kemudian, akhirnya Santana beserta warga pendatang lainnya berhasil di evakuasi ke Bandara untuk di pulangkan ke daerahnya masing-masing. Kini Santana dan putranya Yuda sudah berhasil kumpul bersama keluarga di kediamannya.
Langganan:
Komentar (Atom)

