Sabtu, 12 Oktober 2019

Cerita Santana, Warga Kota Bandung Korban Kerusuhan Wamena

Santana (43), seorang pria
Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung merupakan salah satu pengungsi korban kerusuhan di Wamena yang terjadi pada Senin (23/9/29) lalu. Saat ini ia dan putranya telah berhasil di evakuasi kembali ke daerahnya.

Masih terukir jelas di benak Santana, saat itu Ia dan anaknya tengah mempersiapkan diri untuk bekerja di salah satu restoran di Wamena. Sudah tiga tahun ia menjadi juru masak, Kota Wamena yang ia kenal begitu hangat dan akrab kini tiba-tiba suasana berubah menjadi mencekam.

Pagi itu, tiba-tiba ia mendengar suara tembakan dari balik dapur tempat ia bekerja. Pikirnya, itu adalah tembakan polisi untuk membubarkan dua kelompok pelajar yang terlihat sedang tauran.

"Karena memang di jalan utama ada dua kelompok pelajar yang seakan tengah tawuran, tapi sebenarnya tauran itu tidak ada. Karna mereka bersatu dan akhirnya membuat kerusuhan dengan membakar dan membantai semua pendatang,"kata Santana saat ditemui di kediamannya, Jumat (11/10).

Saat itu, ia melihat bangunan sudah ludes terbakar. Tak pikir panjang, Santana dan putranya Yuda (22), beserta pegawai restoran lain bergegas untuk melarikan diri ke tempat yang aman. Mereka langsung melompat melewati benteng bangunan untuk menghindari kerusuhan.

"Saya sembunyi di rumah warga penduduk asli Wamena. Namun tak lama, karena teriakan masa yang begitu jelas, kita melihat api membumbung tinggi, akhirnya saya dan penduduk asli lari lagi untuk mencari tempat yang lebih aman," ungkapnya.

Santana bersama warga lainnya lari berhamburan menuju ke arah hutan untuk menghindari kerusuhan. "Lalu saya menemukan satu rumah warga pendatang, di sana ada sekitar 15 orang berkumpul di halaman rumah,” kata dia.

Pada saat itu, Santana dan kawan-kawan yang sudah berusaha lari akhirnya hanya bisa pasrah. "Jalan satu-satunya hanya berdoa dan terus berdzikir,"katanya.

Selam lima jam kemudian, akhirnya ia dan kawan-kawan lainnya berhasil di evakuasi ke kantor Polisi. Namun suasana kembali mencekam, tiba-tiba terjadi penyerangan oleh sekumpulan orang bersenjata, mereka menyerang kantor Polisi.

Akhirnya ia kembali dievakuasi ke rumah bosnya, pemilik restoran. Di sana Santana merasa sedikit aman lantaran ada Kopasus yang ikut berjaga. “Di sana bos saya orang Medan, hanya kebetulan di rumahnya ada Kopasus yang berjaga,” kata dia.

Selang beberapa hari kemudian, akhirnya Santana beserta warga pendatang lainnya berhasil di evakuasi ke Bandara untuk di pulangkan ke daerahnya masing-masing. Kini Santana dan putranya Yuda sudah berhasil kumpul bersama keluarga di kediamannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar