Kamis, 24 Mei 2018

Lebaran tanpa Bapak.


Hasil gambar untuk perempuan berkerudung sedih


Ramadhan tlah tiba,
Seluruh umat muslim menyambut bulan suci Ramadhan dengan penuh sukacita, termasuk aku.
Namun, Ramadhan kali ini sangat berbeda.
Hampir semua orang mungkin menjalani puasa pertama bersama keluarga, tapi tidak bagiku.
Ini adalah tahun ke tiga aku menjalani ibadah puasa sendiri, tanpa keluarga. ya beginilah nasib menjadi seorang anak rantau.
Sedih? Tentu. Tapi ini sudah menjadi hal yang sangat biasa. Tapi beruntungnya aku, Allah mengirimkan teman-teman yang sangat baik dan mau menemaniku “munggahan” bersama, sehingga aku tidak merasa begitu sepi.

Tapi, bukan itu maksudku.
“Ramadhan Tahun ini beda”, ya beda karena kondisi keluargaku tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.
Tahun ini menjadi tahun dimana aku merasa hatiku sangat hancur sehancur-hancurnya, aku merasa kehilangan semangat untuk hidup.

Hari ini, Ramadhan sudah memasuki hari ketujuh, artinya 23 hari lagi menuju hari raya idul fitri.
Hari raya idul fitri merupakan hari dimana semua umat muslim bergembira karena mereka bisa berkumpul dan bersilaturahmi bersama keluarga mereka.
Tapi mungkin lebaran kali ini akan terasa berbeda, mungkin lebaran kali ini merupakan lebaran yang begitu berat yang harus aku lalui.
Ya, tahun ini keluargaku sudah tidak lengkap lagi.

Lebaran tanpa bapak. Sakit, hancur, hampa, bingung, kecewa, marah. Perasaanku campur aduk ketika aku membayangkan lebaran nanti, lebaran tanpa bapak.
Lagi-lagi, air mata tak mampu kubendung, entah sudah berapa ratuskali aku menangisi kepergian Bapak.
Setiap kali aku membayangkannya, mata ini tak bisa berhenti untuk menetes, hati ini sakit se sakit-sakitnya. Belum pernah aku merasakan sesakit ini.
sungguh, bagiku lebih baik sakit fisik daripada sakit batin.

Tapi aku bisa apa? Aku tak bisa menyalahkan keadaan, sebab mungkin ini sudah takdir-Nya.
Aku harus ikhlas, kuat dan menerima apa-apa yang sudah digariskan oleh Tuhan untukku.

Lebaran tanpa bapak,
Tak pernah kubayangkan sebelumnya, tapi ya Namanya juga takdir, siapa yang tau.

Mengapa harus aku, Tuhan?
Atau mungkin inikah bentuk rasa sayangMu kepadaku?
Ahk Tuhan, ampuni aku yang terlalu rapuh dan belum mampu menerima takdir dari-Mu.

Tuhan, aku benar-benar rindu sosok pria yang sudah hidup bersamaku selama 21 tahun, sungguh…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar